Monday
18 December 2017
20:46
Section categories
Homepage [24]
Artikel Homepage
Tag Board
200
Our poll
Rate my site
Total of answers: 1
Statistics

Total online: 1
Guests: 1
Users: 0
Login form
Shopping Cart
Your shopping cart is empty
Calendar
«  July 2013  »
SuMoTuWeThFrSa
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031
Entries archive
Site friends
  • Create a free website
  • Online Desktop
  • Free Online Games
  • Video Tutorials
  • All HTML Tags
  • Browser Kits
  • Waltz Tasrifan Community

    Main » 2013 » July » 23 » PERJALANAN HAKIKI, part 2
    19:40
    PERJALANAN HAKIKI, part 2

    Bab – Pembukaan

    Pembukaan ilmu pada jalan untuk mengetahui Tujuan Hakiki Bagi diri dialam duniawi ini adalah mengenal diri, sesungguhnya didalam dunia yang fana (sementara) ini diri dianugerahi Wastah (alat) atau Mujazi (sandaran) yang dimaksudkan semata-mata untuk meng-Esa-kan Zat Yang Menjadikan diri dan Yang menjadikan wastah meliputi khabar yang ada pada diri didalam semesta alam ini yang hakikatnya tidak lain daripada diri, yakni:

    1. Jasad/Tubuh yang berupa Khawas yang lima (pendengar, penglihat, pencium, perasa lidah dan penjabat luar/dalam), inilah alat bagi diri untuk menyaksikan tanda-tanda ke-Esa-an Tuhannya didalam dunia, terkadang disebut kendaraan diri.
    2. Khabar Muttawatir (Kitabullah dan Sunnah Rasul) yang disampaikan turun menurun melalui lidah Rasulullah, Sahabat, Tabiiin, Tabii-ittabiiin, Ulama Al-Muttakadimin, Ulama Al-Mutta-akhirin dan seterusnya hingga sampai pada kita dan Khabar Muttawatir yang merupakan hikmah bagi aqal pada segala kejadian yang ada pada diri dari awal hingga akhir kejadian diri.
    3. Aqal, yakni diri yang latief (halus/ghaib) yang berkehendak pada mengetahui hakikat ada atau tiadanya sesuatu.

    Khawas

    Wastah (alat) yang pertama pada jalan untuk mengetahui tujuan hakiki bagi diri adalah khawas, khawas adalah beberapa sandaran bagi diri untuk menyaksikan tanda-tanda ke-Esa-an Zat Yang Menjadikan segala sesuatu yang ada pada diri meliputi diri dan apa-apa yang disaksikannya, artinya Allah memperlihatkan tanda-tanda Kekuasaan-Nya Yang Esa kepada hamba-Nya melalui penyaksian hamba-Nya yang ditamsilkan sebagai perbuatan hamba-Nya yang merupakan sandaran bagi Perbuatan-Nya.

    Firman Allah:

    Dan Allah Yang Menjadikan dirimu dan apa yang kamu perbuat. (QS: Ash-Shaaffaat-96).

    Katakanlah: Dialah Yang menciptakan kamu dan Yang menjadikan bagi kamu pendengaran dan penglihatan dan hati, amat sedikit kamu bersyukur (QS: Al-Mulk-23).

    Penyaksian diri inilah disebut dengan Khawas, adapun khawas itu dibagi pada 5 perkara:

    1. Berkehendak pada menyaksikan khabar tentang bentuk, warna, gelap dan terang pada alam, maka diri disebut Penglihat, sandaran wastahnya adalah mata yang berlazim dengan cahaya (api).
    2. Berkehendak pada menyaksikan khabar tentang suara-suara pada alam, maka diri disebut Pendengar, sandaran wastahnya adalah telinga yang berlazim dengan udara.
    3. Berkehendak pada menyaksikan khabar tentang bau-bauan dan harum-haruman pada alam, maka diri disebut Pencium, sandaran wastah pada jasadnya adalah hidung yang berlazim dengan udara.
    4. Berkehendak pada menyaksikan khabar tentang rasa pada makanan, minuman dan lainnya pada alam, maka disebutlah Perasa Lidah, sandaran wastah pada jasadnya adalah lidah yang berlazim dengan tanah, air dan udara.
    5. Berkehendak pada menyaksikan khabar tentang rasa pada sekalian badan, maka diri disebut Penjabat, sandaran wastah pada jasadnya adalah hati dan sekalian badan yang berlazim dengan api, tanah, air dan udara.

    Ada khabar yang tidak dapat ditangkap dengan wastah yang satu, tetapi dapat ditangkap dengan wastah yang lain, sehingga khabar itu sampailah pada diri lengkap sebagaimana yang kita saksikan sekarang ini.

    Ketahui olehmu, Setiap Khabar yang engkau saksikan melalui wastah pada anggotamu adalah AMANAH yang engkau tanggung dari Tuhanmu untuk selalu meng-Esa-kan Dia setiap saat, ketika engkau berada pada alam rahim, engkau telah berjanji kepada Tuhanmu untuk meng-Esa-kan Dia pada setiap wastah sandaran untuk engkau dalam menyaksikan setiap jenis masing-masing khabar, apabila ada salah satu saja yang engkau menolaknya atau tiada sanggup untuk menanggung amanah itu, maka engkau diuzurkan dari menanggung amanah itu dengan terlahir atau terjadi sesuatu sebelum engkau aqil baligh pada salah satu wastah didalam jasadmu sehingga engkau cacat.

    Sesungguhnya yang demikian itu karena Allah Lebih Mengetahui dengan Segala Rencana-Nya bagimu.

    Maka, yang menyaksikan segala sesuatu itu adalah semata-mata DIRI, bukan jasad atau badan, sebab jasad atau badan hanyalah wastah (alat) atau sandaran bagi diri untuk menyaksikan tanda-tanda ke-Esa-an Allah, dan tidak sekali-kali jasadmu ataupun wastah yang ada pada sekalian badanmu itu menanggung AMANAH di yaumil akhir, DIRI itulah satu-satunya yang menanggung AMANAH itu, sebab ketika itu sekalian khawas pada Jasadmu itu telah terpisah dari DIRI, mereka akan dikuburkan dan menjadi tanah kembali hingga binasa, dan DIRI kembali ke tempat asalnya dalam keadaan KEKAL (dikekalkan oleh Zat Yang Kekal) untuk mempertanggung jawabkan AMANAH yang ditanggungnya, inilah sehingga-hingga huraian KHAWAS, selebihnya adalah Rahasia Tuhanmu.

    Firman Allah:

    Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Nya, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, kamu sedikit sekali bersyukur (QS: As-Sadjah-9).

    Baca Juga, QS: An-Nahl-78, QS:Al-Isra-36, QS: Al-Muminuun-78, QS: Fush shilat-22 dan banyak lagi.

    Lihatlah dirimu! Apabila engkau tiada mengetahui sedikit tentang ini, maka ketika engkau mengaku ISLAM dan mengikrarkan Syahadat (kalimat Tauhid):

    Asyhadu!!

    (Aku ber Saksi!!)

    adalah merupakan kebohongan yang nyata-nyata MUNAFIQ disebabkan engkau tiada mengenal DIRI-mu dan tiada sudi menuntut ilmu tentang hal ini dari Rasulullah MUHAMMAD SAW, sehingga setiap detik engkau Khianat pada apa-apa yang di amanahkan kepadamu, engkau senantiasa DUSTA dan engkau tiada menepati janjimu.

    Bacalah Surrah Al-Munaafiquun, itulah nyata-nyata keadaanmu yang sekarang.

    Dan ingatlah janji Allah:

    Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan Allah) (QS: Al-Baqarah-18).

    Sehingga apabila sampai mereka ke Neraka, Pendengaran, Penglihatan dan Kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang yang mereka kerjakan.(QS: Fush shilat-20).

    Khabar Muttawatir

    Hakikat khabar muttawatir adalah Kalam Allah Yang Suci, Tiada berhuruf dan tiada bersuara, menghujam kepada diri sehingga diri menjadi yakin dengan jazam (putus) tiada syak, waham ataupun zon, tergantung kemana arah tujuan diri membawa makna khabar itu.

    Mustahil ada khabar yang cedera atau bercampur dengan kebatilan, sesungguhnya Allah menganugerahkan khabar dengan Sempurna dan Haq (benar) kepada diri melalui sandaran segala kejadian pada diri, namun sungguh kebanyakan diri tiada mengetahui, diri cenderung mengambil makna sekehendak nafsu dan syahwatnya.

    "Ini (Segala Khabar dari Allah) adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Esa, dan supaya orang-orang yang beraqal mengambil pelajaran” (QS: Ibrahim-52).

    Sesungguhnya yang Haq itu adalah Allah Yang Kamalat (Sempurna), dan yang batil itu adalah semata-mata prasangka yang timbul dari manusia akibat dipengaruhi oleh kebutuhan jasad yang cenderung kepada kebutuhan duniawi (Nafsu dan Syahwat) yang merupakan rumah iblis didunia. Dan sesuatu yang batil itu pasti lenyap.

    baca QS: Al-Israa-81, QS: Al-Anbiya-18, QS: Al-Hajj-62, QS: Al-Ankabuut-52, QS: Luqman-30, QS: Saba-49, QS: Muhammad-3, QS: Fush shilat-42, QS: Yunus-66, QS: Fush shilat-23

    Maka khabar muttawatir yang dibahas pada rubu ini adalah khabar muttawatir yang sejalan dengan pengakuan dan penyaksian terhadap sandaran ajaran Rasulullah SAW dari seorang hamba kepada Tuhannya sesuai dengan tali ilmu mulai dari dirinya yang mendapatkan pengajaran dari seikhnya, seikhnya mendapat pengajaran dari seikhnya dan seterusnya hingga kepada tabii-ittabiiin yang mendapatkan pengajaran tabiiin, dan tabiiin mendapatkan pengajaran dari Sahabat, dan Sahabat mendapat pengajaran dari Rasulullah SAW, dan Rasul SAW mendapatkan pengajaran dari Jibril hingga kepada Allah.

    Begitulah sandaran pengajaran yang sah secara syariat Islam yang berlaku hanya di dunia sahaja.

    1. Khabar Muttawatir yang datang (sandaran) dari lidah Rasul (Kitabullah dan Sunnah Rasul).
    2. Khabar Muttawatir yang datang (sandaran) dari lidah orang-orang banyak (yang sesuai dengan tali ilmu warisan Rasulullah SAW).

    Pada hakikatnya Allah SWT jua yang mengajarkan langsung kepada diri yang hidup hatinya, namun hal ini haram sekali-kali dizahirkan pada lidah, melainkan cukup mentasdiq (menjazamkan keyakinan) didalam hati sahaja, barang siapa yang menzahirkan keadaan ini, lebih-lebih apabila mengaku mendapat ilham atau wahyu, maka halal darahnya ditumpahkan, ketahui olehmu, bahwa keimanan seseorang adalah hal yang ghaib, dan tiada seorangpun dimuka bumi ini yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah dan diantara Rasul pilihan-Nya.

    Baca: QS: Ali-Imran-179

    Maka Rahasiakanlah apabila terjadi sesuatu padamu yang diluar kebiasaan yang engkau takjub dan bertambah kuat keimananmu terhadap-Nya, sesungguhnya itu adalah kasih sayang Allah terhadapmu, ketahui olehmu, bahkan Rasulullah dilarang menzahirkan hal ini apabila menjadikan kecenderungan ummatnya mempertuhankan beliau SAW, terkecuali apabila hal ini menjadi pengajaran bagi beliau dan ummatnya, Baca: QS: Ali-Imran-44, QS: Al-Anaam-50, Al-ARaaf-188.

    Inilah kesempurnaan Mujizat Al-Quraan yang diberikan bagi mukminin dan mukminat, yakni rahasia ilmu yang terhujam kepada mereka tentang diri mereka dan Tuhannya, yang tiada sanggup mereka membicarakannya, sungguh kelu lidah untuk mengucapkannya, dan yang demikian itu semata-mata mereka bermesraan dengan kelezatan iman yang jazam 100% terhadap Yang Menjadikan mereka, baca QS: Yunus-20.

    Muslimin, inilah sehingga-hingga kesempurnaan syariat yang membedakan antara engkau dengan pengikut Ahli-Kitab yang tersesat dan kebanyakan orang dimuka bumi, sesungguhnya ahli-Kitab yang tersesat mencampurkan antara yang haq dengan yang bathil, padahal mereka mengetahui, namun mereka menyembunyikan yang haq, baca QS: Al-Baqarah-42, QS: Ali Imran- 71, dan kebanyakan manusia dimuka bumi pada hakikatnya menduga-duga dan berdusta, mereka sama sekali tidak mengetahui, baca QS: Al-Anaam-116, Ingatlah! apabila mereka mengajarkan keyakinan mereka yang sesat kepadamu, sesungguhnya akan menyesatkanmu

    HUKUM AQAL

    Pengertian Aqal adalah suatu hukum yang menetapkan akan ADA atau TIADA sesuatu.

    Maka Aqal ini adalah salah satu sebutan (nama) pada perbuatan AMANAH yang dipikulkan oleh Allah kepada diri-mu (Jika engkau manusia).

    Tentang AMANAH yang tersebut adalah sesuatu yang ghaib yang nyata-nyata ada pada diri-mu, Insya Allah akan dihuraikan lain waktu jika ada kesempatan pada rubu khusus tentang Rahasia Ketuhanan (Latifatu Rabbaniyah) yang diamanatkan oleh Allah kepada diri-mu, sebab Rahasia maka tidak akan disampaikan secara umum, melainkan khusus kepada orang yang percaya dan berkehendak mengetahui (Salikin / Orang Muslim yang berkehendak mengetahui jalan akhirat).

    Maka perbuatan yang disebut Aqal ini adalah dua jenis:

    1. Aqal Nadzari, yakni Aqal yang berkehendak kepada dalil dan keterangan.

    Perumpamaan: Engkau mengetahui (menyaksikan/meyakini) bahwa ada harimau malam tadi dipekarangan rumahmu. Bermula ketika ada orang yang memberitahukannya kepadamu bahwa ia mendengar suara harimau (Keterangan), lalu engkau pergi kepekarangan rumahmu dan ketika engkau mendapati tapak jejak bekas kaki harimau (dalil), maka engkau percaya (menyaksikan) bahwa tadi malam ada harimau.

    2. Aqal Dhlururi, yakni aqal yang tiada berkehendak kepada dalil dan keterangan.

    Perumpamaan: Engkau menyaksikan kebenaran peristiwa isra-miraj yang dikhabarkan oleh Rasulullah SAW, Bermula engkau percaya kepada Allah dan percaya kepada Rasul-Nya, maka apapun yang dikhabarkan kepadamu dari Rasulullah, engkau langsung percaya (menyaksikan), engkau mengharamkan dirimu dari mencari dalil dan keterangan yang jelas-jelas tiada sanggup engkau memikirkan perbuatan Tuhanmu, maka engkau mendapatkan perasaan iman yang bertambah kepada Tuhanmu yang Kuasa atas segala sesuatu.

    HUKUM AQAL

    Adapun hukum aqal itu dibahagi tiga perkara:

    1. Wajib Aqal, yakni Sesuatu yang tidak diterima oleh aqal akan tiada-Nya, maka Wajib Ada-Nya.
    2. Mustahil Aqal, yakni Sesuatu yang tidak diterima oleh aqal akan ada-nya, maka Mustahil ada-nya.
    3. Harus (Jaiz) Aqal, yakni sesuatu yang diterima oleh aqal akan ada-nya dan tiada-nya.

    Perumpamaan: Bila engkau meyakini sesuatu itu ada disebabkan engkau menyaksikannya, maka aqal akan mempertanyakan dari mana asal kejadiannya, dan bagaimana jika tidak dijadikan? Ketika engkau yakin sesuatu itu ada karena diadakan, maka aqal-mu yakin bahwa Harus (Jaiz) ada-nya sesuatu itu, sebab bila sesuatu itu tidak dijadikan atau dibinasakan, maka sesuatu itu jadi tidak ada.

    Ketika engkau mempertanyakan bagaimana ke-ada-an Zat Yang Menjadikan segala sesuatu itu, maka engkau meyakini bahwa Zat Yang Menjadikan itu tidak terjadi oleh karena sesuatu sebab, yakni:

    1. Tidak dijadikan oleh sesuatu.
    2. Tidak menjadikan dirinya-Nya sendiri.
    3. Tidak terjadi dengan sedirinya (tidak begitu saja terjadi)
    4. Tidak berjadi-jadian, misalnya si A menjadikan si B lalu si B menjadikan si A.

    Karena engkau memandang Ada Zat Yang menjadikan segala sesuatu yang Harus (jaiz) yang engkau saksikan di semesta alam ini dan Zat Yang Menjadikan segala sesuatu itu Ada-Nya tidak karena oleh sesuatu sebab, maka aqal-mu yakin bahwa Wajib Ada-Nya Zat itu, Sesungguhnya Zat itulah yang engkau sebut Tuhan-mu.

    Karena engkau memandang Ada Zat Yang menjadikan segala sesuatu yang Harus (jaiz) yang engkau saksikan di semesta alam ini dan Zat Yang Menjadikan segala sesuatu itu Ada-Nya tidak karena oleh sesuatu sebab, maka aqal-mu yakin bahwa Mustahil Ada kekurangan (Ketidak sempurnaan) pada-Nya.

    Inilah awal mula ilmu (pendahuluan) untuk engkau kembali kepada mengetahui tujuan yang hakiki bagi diri-mu, barulah aqal-mu mempercayai dan meyakini ketika dikatakan orang kepadamu bahwa Allah itu Wujud (Ada), Qidam (Sedia/Tiada awal), Baqa (Kekal/Tiada akhir), Mukhalafatuhu lil hawadits (Berbeda dengan sesuatu yang jaiz), Qiyamu bi Nafsihi (Berdiri sendiri/Tidak memerlukan bantuan sesuatu apapun pada menjadikan ciptaan-Nya, bahkan segala sesuatu apapun itu Dia Yang Menciptakan) dan Esa (Tiada bersusun-susun, tiada bercerai-cerai dan tiada berbilang-bilang).

    Dan barang siapa yang tiada memiliki pengetahuan terhadap hal ini adalah binatang, jika manusia maka manusia itu adalah Kafirun dan munafiqun.

    Orang yang awwam dan segala heiwan yang hidup memakai nyawa menyangka bahwa segala sesuatu yang disaksikan adalah nyata, sebab inilah mereka disebut belum ber-aqal atau kurang aqal, dan cenderung bagi anak-anak yang belum baligh ada pada keadaan ini.

    Apabila ia mulai mengetahui betapa segala sesuatu yang disaksikan itu fana dan jaiz maka mulailah perjalanan perenungan-perenungan pada jalan akhirat yang disebut dengan taffakur (merenung).

    ALAM

    Ketahui olehmu, segala sesuatu yang disaksikan pada semesta alam ini ada 4 (empat) jenis:

    1. Jirim, yakni barang yang dapat dihitung bersamaan luar dan dalam. Misalnya: Benda padat, besi, daging, kayu, tulang, daun dan sebagainya.
    2. Jisim, yakni barang yang hidup memakai nyawa, tidak bersamaan luar dan dalam. Misalnya: Manusia dan heiwan.
    3. Jauhar farad, yakni barang yang halus, tidak dapat dibelah-belah atau dihitung. Misalnya: Asap, cahaya, udara, benda cair, debu, listrik dan lain-lain.
    4. Jauhar latief, yakni barang yang halus tidak dapat disaksikan oleh khawas yang lima namun nyata adanya bagi diri. Misalnya: Ruh, Jin, Malaikat dan Syaithon.

    Maha Suci Zat Yang menjadikan segala sesuatu itu seperti salah satu dari keempat jenis alam yang tersebut diatas itu, sebab Dia Yang menjadikan segala jenis bagi alam itu.

    Jirim, Jisim, jauhar Farad dan Jauhar latief itu wajib mempunyai keadaan (sifat) dengan empat keadaan:

    1. Memakai Tempat, misalnya, ada pada dunia, ada pada alam, ada pada khayal atau bayang-bayang fikiran (kenangan) dan ada didalam waktu (masa).
    2. Memakai Jihat (arah), misalnya, di utara, di selatan, di atas, di bawah, hadapan atau belakang.
    3. Bersusun-susun atau bercerai-cerai, misalnya manusia, bersusun-susun maksudnya mulai dari ujung rambut hingga ke ujung kaki, bercerai-cerai maksudnya ada manusia yang satu dan ada pula manusia yang lainnya.
    4. Memakai Arad (Sifat), Misalnya Warna, Bentuk, Rupa, Panas atau dingin, Besar atau Kecil, Gerak atau diam, Keras atau lunak, Bising atau sunyi, Harum atau bau, Asam atau Manis, Halus atau kasar dan lainnya.

    Maha Suci Zat Yang menjadikan segala sesuatu itu keadaannya seperti salah satu dari keempat keadaan Alam yang tersebut diatas itu, sebab Dia Yang menjadikan keempat keadaan bagi alam itu. Ketahui olehmu, apabila engkau renungkan baik-baik, maka segala yang dijadikan oleh Allah itu keadaan zahirnya selalu berubah setiap detiknya, dan tidak akan sama dari awal hingga akhir kejadian, pasti ada saja faktor-faktor kecil yang membedakannya, untuk inilah dinamakan Baharu Alam, artinya berubah.

    Maka kejadian yang telah berlalu itu tidaklah akan kembali menjadi sebuah kenyataan lagi, melainkan menjadi sebuah kenangan, ketahui olehmu, sesungguhnya tiadalah kenyataan didunia ini, melainkan prasangkaan belaka atau lebih jelasnya hidup didunia ini ibarat mimpi, untuk itulah prasangkaan memandang nyata kepada segala yang disaksikan didunia itu disebut bathil.

    Kenyataan yang haq (benar) adalah saat ini, yang Berlalu adalah kenangan, yang akan datang adalah khayal atau angan-angan, Sungguh tiada kenyataan selain saat ini. Dan engkau saat ini sedang menyaksikan Afal (Perbuatan) Zat Yang Menjadikan segala sesuatu yang sedang engkau saksikan ini, Dia yang menjadikan Waktu dan segala yang terjadi pada waktu, Dia Yang menjadikan masa lalu, masa kini dan masa yang lagi pasti akan datang, yakni akhirat.

    Maka inilah yang disebut permulaan menyaksikan Tiada Yang Wujud selain Zat Yang Menjadikan Segala yang engkau saksikan, Dia-lah Allah, Tuhanmu! Dia tiada berubah-ubah pada Kenyataan Yang Haq, Dia Kekal pada penyaksianmu terhadap alam ini, namun engkau khianat pada janjimu, Dusta engkau kepada-Nya, sungguh engkau adalah kaum yang merugi, sebab engkau mencampurkan adukkan Yang Haq dengan yang bathil, padahal engkau mengetahui.

    Bertobatlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya semata-mata Dia-lah yang engkau hadapi, sebab segala yang engkau saksikan, termasuk ketika engkau membaca tulisan ini, tiada terlepas dari Kekuasaan-Nya, Dia-lah ALLAH yang menjadikan-mu dan meliputi segalanya ini sehingga dapat engkau saksikan.

    Wallahu kholaqakum wa maa tamaluun

    Dan Allah-lah yang menjadikan-mu dan apa-apa penyaksianmu (QS: Ash-Shaaffaat-96).

    Katakanlah:

    Aku Bersaksi! Bahwa Tiada Tuhan Yang Haq Selain Allah!!, dan aku bersaksi! Bahwa Muhammad (hati yang bersih sempurna terhadap segala yang bathil) adalah utusan Allah


    Category: Homepage | Views: 200 | Added by: Walkoe
    Total comments: 0
    Only registered users can add comments.
    [ Sign Up | Login ]