Saturday
16 November 2019
08:15
Section categories
Homepage [24]
Artikel Homepage
Tag Board
200
Our poll
Rate my site
Total of answers: 1
Statistics

Total online: 1
Guests: 1
Users: 0
Login form
Calendar
«  November 2019  »
SuMoTuWeThFrSa
     12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
Entries archive
Site friends
  • Create a free website
  • Online Desktop
  • Free Online Games
  • Video Tutorials
  • All HTML Tags
  • Browser Kits
  • Waltz Tasrifan Community

    Main » Entries archive
    « 1 2 ... 47 48 49 50 »
    Penulis : Hilda B Alexander | Jumat, 24 Mei 2013 | 20:30 WIB
    Dibaca: 1655
    |
    Share:
    KOMPAS/RIZA FATHONI
    Indonesia dianggap sebagai pasar yang seksi. Sejumlah 20 perusahaan penyelenggara pameran mancanegara, melakukan eskpansi usaha di sini.
    TERKAIT:

    JAKARTA, KOMPAS.com - ASEAN Economic Community yang akan diterapkan pada 2015 nanti, mendatangkan berbagai konsekuensi. Salah satunya adalah, ASEAN akan menjadi sebuah kawasan ekonomi bebas, besar dan kompetitif. Timbul pertanyaan kemudian, siapkah Indonesia menghadapi pasar bebas ini? Pasalnya hingga saat ini baik program pemerintah maupun dunia usaha belum terintegrasi dengan baik.

    Dalam industri MICE, sebelum AEC diberlakukan pun, sudah terdapat enam perusahaan penyelenggara pameran kelas dunia yang beroperasi di Indonesia. Sebut saja REED asal Inggris, UBM dan HKTCD.
    -- Effi Setiabudi

    Jika AEC sudah diberlakukan, maka akan terjadifree flow of goods, free flow of services, free flow of investment, free flow of capital dan free flow of skilled labor. Mestinya, bila ingin mendapat kemanfaatan dari kebebasan pasar tersebut, daya saing dunia usaha semakin ditingkatkan tanpa mengabaikan prinsip market driven economysesuai dengan ketentuan multilateral.

    Menurut Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (Asperapi) Effi Setiabudi, Indonesia harus siap menghadapi pasar bebas ini. Pelaku usaha Nasional tak bisa mencegahnya. Oleh karena itu yang harus dilakukan adalah meningkatkan daya saing, menambah jaringan bisnis (networking), mengasah kemampuan membaca tren pasar dan yang terpenting adalah menjaga ketahanan usaha agar kuat menghadapi serbuan pemain asing di jenis bisnis yang sama. 

    "Dalam industri meeting, incentives, conference dan exhibition (MICE), sebelum AEC diberlakukan pun, sudah terdapat enam perusahaan penyelenggara pameran kelas dunia yang beroperasi di Indonesia. Sebut saja REED asal Inggris, UBM dan HKTCD. Mereka adalah global player yang kerap menyelenggarakan pameran berklasifikasi B2B (business to business)," ungkap Effi kepadaKompas.com, di Jakarta, Jumat (24/5/2013).

    Jumlah enam event organizer asing tersebut, lanjut Effi, akan ditambah empat belas pemain lainnya yang akan masuk tahun ini. Sehingga jumlah total perusahaan penyelenggara pameran mancanegara yang ekspansi di Indonesia sebanyak 20 buah.

    Kiamat? Effi memandangnya belum. Meski saat ini jumlah anggota Asperapi tak kunjung bertambah, namun ia masih memiliki kebanggaan. Menurutnya, event-event skala internasional berklasifikasibusiness to business (B2B) yang digelar di Jakarta atau Bali masih banyak yang dihelat oleh perusahaan penyelenggara pameran Nasional. Sebut saja Napindo, Debindo, dan Dyandra.

    "Berbeda dengan di Thailand atau bahkan Singapura. Acara level dunia justru diselenggarakan olehglobal player. Pemain lokalnya tak ada yang mampu unjuk gigi," terang Effi seraya menambahkan bahwa saat ini terdapat sepuluh perusahaan penyelenggara pameran Indonesia yang memiliki kemampuan melaksanakan acara konferensi dan pameran B2B.

    Views: 320 | Added by: Walkoe | Date: 29 May 2013 | Comments (0)

    1-1 2-2 ... 47-47 48-48 49-49 50-50